review1st.com – Belakangan ini, lini masa media sosial dan grup obrolan keluarga ramai memperbincangkan satu nama: MBG TV. Bagi masyarakat awam, ini mungkin terdengar seperti stasiun televisi baru yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Namun, jika kita membedahnya dari kacamata media dan teknologi informasi, MBG TV adalah sebuah eksperimen komunikasi publik berskala masif.
?Di tengah era “banjir informasi” yang seringkali minim verifikasi, kehadiran jejaring penyiaran yang secara khusus mendeseminasikan literasi gizi dan mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG) seolah menjadi oase.
Namun, apakah inisiatif ini benar-benar revolusioner, atau jangan-jangan sekadar proyek usang yang membuang anggaran? Mari kita bedah lebih dalam.
?Apa Itu MBG TV? Pendekatan Penyiaran Hybrid
?Berbeda dengan stasiun TV nasional tunggal yang mendominasi frekuensi, MBG TV beroperasi sebagai sebuah jejaring penyiaran edukasi. Pendekatan distribusinya cukup taktis karena mengadopsi model hybrid:
- ?Jalur Terestrial: Menggandeng sekitar 15 jaringan televisi lokal untuk mengudara di 13 provinsi dan menjangkau 98 kabupaten/kota.
- ?Jalur Digital: Tersedia melalui live streaming nasional via portal terintegrasi (JupnasGizi.com).
?Fokus kontennya sangat terkurasi, yakni edukasi gizi praktis (cara membaca label, komposisi porsi, pencegahan stunting), sosialisasi operasional program MBG, hingga liputan dokumenter dari dapur dan jalur distribusi di lapangan.
?Urgensi MBG TV dari Kacamata Media dan Teknologi
?Mengapa program makan gratis harus sampai membuat jejaring TV sendiri? Dari perspektif tech media, ada tiga urgensi utama yang membuat inisiatif ini di atas kertas terlihat sangat krusial:
?1. Memerangi Algoritma “Hoaks” dan Misinformasi
?Program berskala nasional dengan anggaran raksasa adalah sasaran empuk bagi misinformasi. Saat ini, jika Anda mengetik “MBG TV” di platform seperti YouTube, algoritma bisa saja menyodorkan kanal-kanal kreator yang sekadar me-review makanan, atau lebih parah, konten clickbait berisi informasi palsu seputar syarat penerima MBG.
Kehadiran entitas resmi seperti MBG TV berfungsi sebagai sumber kebenaran tunggal (single source of truth). Publik memiliki rujukan pasti untuk memvalidasi klaim-klaim liar yang berseliweran di TikTok atau grup WhatsApp.
?2. Menjembatani Kesenjangan Digital (Digital Divide)
?Tidak semua target sasaran program MBG memiliki akses internet cepat 24 jam untuk menonton edukasi di YouTube atau membaca artikel portal berita.
Dengan masuk ke jaringan TV terestrial lokal, MBG TV memanfaatkan frekuensi publik yang bisa diakses secara gratis oleh masyarakat di daerah dengan penetrasi internet rendah. Ini adalah strategi pemerataan informasi yang sangat logis.
?3. Edukasi Repetitif Berbasis Audio Visual
?Mengubah perilaku dan meningkatkan literasi gizi sebuah bangsa tidak bisa dilakukan hanya lewat penyebaran poster PDF. Dibutuhkan medium audio-visual yang bercerita (storytelling) dan ditayangkan secara berulang-ulang (repetitif).
Medium televisi dan video memiliki retensi pemahaman yang jauh lebih tinggi bagi audiens massal dibandingkan teks.
?Realita Pahit: Sekadar Proyek Mercusuar atau Solusi Usang?
?Meskipun di atas kertas konsep dan urgensinya terdengar seperti utopia literasi digital, mari kita bedah realita pahitnya.
Inisiatif MBG TV ini sangat rentan berujung menjadi white elephant—proyek mercusuar penghabis anggaran yang pada akhirnya sepi penonton.
?Pertama, kita harus mengkritisi mediumnya secara tajam. Kita berada di tahun 2026, di mana atensi masyarakat—terutama keluarga milenial dan Gen Z—sudah terfragmentasi dan sepenuhnya dikuasai oleh algoritma video pendek vertikal.
Membangun jejaring TV terestrial atau mengarahkan audiens untuk sengaja membuka portal live streaming pemerintah terasa seperti solusi usang ala era 2000-an untuk menjawab tantangan disrupsi hari ini.
Bukankah jauh lebih efektif dan rasional jika anggaran miliaran untuk infrastruktur penyiaran ini dialihkan untuk membombardir kampanye literasi di platform yang memang sudah dihuni oleh rakyat setiap detiknya?
?Kedua, ada bahaya laten terkait independensi konten. Sebagai produk yang lahir dari rahim program itu sendiri, MBG TV rawan tergelincir menjadi sekadar alat glorifikasi sepihak.
Apakah kanal ini berani menayangkan jurnalisme investigasi ketika ada karut-marut logistik di daerah? Apakah mereka akan menyoroti kualitas makanan yang melenceng dari standar gizi di pelosok desa?
Jika MBG TV hanya didesain untuk menampilkan “dapur yang higienis” dan “anak-anak sekolah yang tersenyum lebar” tanpa berani transparan terhadap evaluasi lapangan, maka stasiun ini tak lebih dari sekadar corong public relations murahan.
Infrastruktur informasi memang krusial untuk menangkal “infodemi” seputar program gizi nasional. Namun, literasi gizi masyarakat tidak akan mendadak meroket hanya karena pemerintah mencekoki mereka dengan saluran TV baru.
Jika MBG TV gagal menyajikan konten yang benar-benar organik, enggan beradaptasi dengan gaya konsumsi media mobile-first masa kini, dan menolak jujur pada realita lapangan, inisiatif ini hanya akan tercatat sebagai kanal “hidup segan mati tak mau” di pojokan frekuensi yang tak pernah disentuh remote control rakyatnya.





