Berita  

Membangun Kepercayaan Bisnis di Era AI: Pentingnya Ketahanan Siber

review1st.com – Ekonomi digital Indonesia terus berkembang. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai transaksi bruto atau GMV ekonomi digital Indonesia mencapai USD 100 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar USD 180 miliar pada 2030.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan semakin didorong oleh kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Bagi perusahaan di Indonesia, tantangannya kini bukan lagi sekadar menentukan apakah AI perlu diadopsi, melainkan bagaimana memanfaatkannya untuk menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan.

Ambisi tersebut terlihat dari hasil PwC’s 29th Global CEO Survey. Sebanyak 75% CEO di Indonesia menyatakan berencana mengejar peluang pertumbuhan di luar lini bisnis utama perusahaan dalam tiga tahun mendatang. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 37% CEO di kawasan Asia Pasifik.

Namun, manfaat AI yang dirasakan perusahaan masih belum merata. PwC mencatat sekitar satu dari lima CEO di Indonesia mengaitkan AI dengan pertumbuhan pendapatan, sementara lebih dari satu dari empat CEO melaporkan penghematan biaya. Hanya sekitar satu dari sepuluh yang merasakan kedua manfaat tersebut secara bersamaan.

Fondasi AI yang Bertanggung Jawab Masih Perlu Diperkuat

Salah satu tantangan dalam meningkatkan manfaat AI adalah kesiapan fondasi organisasi. PwC mencatat bahwa 63% organisasi di Indonesia memiliki budaya yang mendukung AI dan 57% mampu mengintegrasikan AI.

Namun, hanya 36% organisasi yang telah memformalkan proses AI yang bertanggung jawab.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara keinginan perusahaan untuk memanfaatkan AI dan kesiapan mereka dalam mengelola teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

Ketika AI mulai berpindah dari tahap eksperimen menjadi bagian dari operasional bisnis sehari-hari, risiko operasional dan keamanan siber juga semakin kompleks. Karena itu, perusahaan perlu menemukan cara untuk memperluas penggunaan AI tanpa meningkatkan risiko secara tidak terkendali.

Ketahanan Siber Menjadi Kebutuhan Bisnis

Untuk membangun kepercayaan di era AI, perusahaan perlu melihat resiliensi siber atau ketahanan siber bukan hanya sebagai persoalan keamanan teknologi, tetapi sebagai bagian penting dari keberlangsungan bisnis.

Pada 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendeteksi sekitar 5,2 miliar anomali lalu lintas yang berpotensi mengindikasikan serangan siber di Indonesia. Sekitar 93,78% di antaranya berkaitan dengan malware yang berpotensi berkembang menjadi ransomware.

Angka tersebut setara dengan rata-rata sekitar 185 potensi serangan setiap detik.

Besarnya ancaman membuat perusahaan perlu memperkuat ketahanan seluruh operasional TI, bukan hanya sistem pertahanan siber. Tujuannya adalah meminimalkan gangguan, menjaga kelangsungan bisnis, serta mempertahankan kepercayaan pelanggan dan pemangku kepentingan ketika insiden keamanan terjadi.

Tata Kelola AI yang Bertanggung Jawab Semakin Penting

Selain ketahanan siber, tata kelola AI yang bertanggung jawab menjadi fondasi penting bagi perusahaan yang ingin memperluas pemanfaatan AI.

Organisasi membutuhkan visibilitas, kontrol, dan akuntabilitas yang memadai terhadap sistem AI agar dapat memaksimalkan manfaat teknologi sekaligus mengelola risiko yang menyertainya.

Indonesia sendiri mulai bergerak ke arah tersebut. Pada 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan panduan tata kelola AI untuk sektor perbankan Indonesia.

Panduan tersebut mengedepankan prinsip seperti keandalan, akuntabilitas, dan pengawasan manusia, serta melengkapi ketentuan terkait ketahanan siber dan keamanan yang telah ada.

Hal ini menunjukkan bahwa tata kelola AI mulai bergeser dari sekadar wacana teknologi menjadi bagian dari ekspektasi terhadap pengelolaan bisnis yang bertanggung jawab.

Kompleksitas Infrastruktur TI Menambah Tantangan

Penerapan AI berlangsung ketika lingkungan teknologi perusahaan semakin kompleks. Karyawan menggunakan berbagai aplikasi dan perangkat, sementara organisasi menjalankan sistem di lingkungan cloud, on-premises, maupun hybrid.

AI dan otomasi kemudian menambahkan lapisan baru pada ekosistem TI yang sudah saling terhubung.

Ketika setiap sistem dikelola secara terpisah, masalah sederhana dapat menjadi lebih sulit untuk didiagnosis.

Misalnya, ketika seorang karyawan tidak dapat mengakses aplikasi, penyebabnya belum tentu berasal dari aplikasi tersebut. Gangguan dapat terjadi pada jaringan, endpoint, autentikasi, maupun infrastruktur pendukung.

Keterbatasan visibilitas dapat memperlambat respons, membuat dampak insiden sulit dipetakan, dan pada akhirnya mengurangi kepercayaan terhadap kemampuan organisasi dalam menjaga operasional bisnis.

Unified IT Management Bantu Perusahaan Tingkatkan Resiliensi

Dalam kondisi tersebut, unified IT management atau manajemen TI terpadu menjadi semakin relevan.

Dengan menghadirkan visibilitas yang lebih luas terhadap endpoint, jaringan, aplikasi, dan infrastruktur, organisasi dapat mengidentifikasi risiko secara lebih proaktif dan merespons potensi gangguan dengan lebih cepat.

Pendekatan manajemen TI terpadu juga membantu menghubungkan operasional teknologi sehari-hari dengan tujuan bisnis yang lebih besar, termasuk keamanan, ketahanan operasional, dan kelangsungan bisnis.

ManageEngine Dorong Manajemen TI yang Lebih Resilien

Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus ManageEngine, divisi manajemen TI enterprise dari Zoho Corporation.

Membangun Kepercayaan Bisnis di Era AI: Pentingnya Ketahanan Siber

“Seiring adopsi AI yang semakin cepat, tantangan sesungguhnya bukan lagi seberapa cepat organisasi dapat menerapkan teknologi baru, melainkan seberapa bertanggung jawab dan resilien mereka mengoperasikannya.

Resiliensi siber dan tata kelola AI yang bertanggung jawab kini tidak dapat dipisahkan dari kinerja bisnis,” ujar Hanief Bastian, Technical Manager ManageEngine Indonesia.

Menurut Hanief, pendekatan manajemen TI terpadu dapat memberikan organisasi visibilitas dan kontrol untuk mengelola risiko di tengah lingkungan teknologi yang semakin kompleks.

Dengan fondasi tersebut, perusahaan dapat berinovasi dengan lebih percaya diri sekaligus menjaga kepercayaan sebelum, selama, dan setelah terjadi insiden.

Ketahanan Siber dan Tata Kelola AI Jadi Fondasi Pertumbuhan Bisnis

Bagi Indonesia, pentingnya ketahanan siber dan tata kelola AI tidak hanya berdampak pada masing-masing perusahaan. Ketika ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar USD 180 miliar pada 2030, perusahaan perlu memastikan investasi AI menghasilkan nilai yang aman, terukur, dan tepercaya.

Teknologi dapat menciptakan nilai, tetapi resiliensi dan tata kelola membantu melindungi nilai tersebut.

Karena itu, keunggulan kompetitif perusahaan di era AI mungkin tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang digunakan atau seberapa cepat AI diadopsi.

Keunggulan tersebut juga akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola teknologi secara cerdas, memperkuat ketahanan siber, dan menerapkan tata kelola AI yang bertanggung jawab.

Dengan fondasi tersebut, ambisi transformasi digital dapat berkembang menjadi kepercayaan bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan.