review1st.com – Pertumbuhan pesat pembayaran digital di Indonesia membawa kemudahan bagi masyarakat, tetapi juga memunculkan tantangan baru dalam keamanan transaksi.
TrustDecision memperingatkan bahwa penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) kini berkembang semakin adaptif dan mampu menghindari sistem deteksi tradisional yang masih mengandalkan aturan (rule-based).
Seiring meningkatnya penggunaan QRIS, BI-FAST, dan layanan keuangan digital, pelaku kejahatan siber memanfaatkan AI untuk menguji sistem keamanan melalui transaksi bernilai kecil sebelum melancarkan serangan yang lebih besar dan terkoordinasi.
Pembayaran Digital Indonesia Terus Tumbuh, Risiko Penipuan Ikut Meningkat
Indonesia menjadi salah satu pasar pembayaran digital dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Tenggara.
Hingga akhir 2025:
- Pengguna QRIS telah melampaui 59 juta.
- Total transaksi QRIS mencapai 13,66 miliar transaksi sepanjang tahun.
- Bank Indonesia memproyeksikan transaksi pembayaran digital akan tumbuh hampir 30% pada 2026.
Di balik pertumbuhan tersebut, TrustDecision menilai meningkatnya volume transaksi digital turut membuka peluang baru bagi pelaku penipuan yang memanfaatkan AI untuk mengeksploitasi celah keamanan.
Penipuan AI Kini Lebih Cepat dan Adaptif
Analisis terbaru TrustDecision menunjukkan bahwa lembaga keuangan di Asia Tenggara mulai mengandalkan sistem AI otonom dalam proses pengambilan keputusan terkait:
- Persetujuan kredit.
- Deteksi penipuan.
- Kepatuhan terhadap regulasi.
Namun, pelaku kejahatan siber juga memanfaatkan AI untuk mengembangkan metode serangan yang lebih canggih.
Salah satu teknik yang semakin banyak digunakan adalah melakukan transaksi uji coba bernilai rendah untuk mempelajari pola deteksi sistem keamanan. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan strategi sebelum melancarkan aksi penipuan dalam skala lebih besar.
Menurut Dr. Simon Liu, Chief Data and AI Officer TrustDecision, perubahan terbesar yang dibawa AI adalah kemampuan pelaku kejahatan untuk menguji, mempelajari, dan memodifikasi metode serangan dalam waktu yang sangat singkat.
Akibatnya, sistem keamanan berbasis aturan konvensional semakin sulit mengikuti kecepatan evolusi serangan tersebut.
AI Mengubah Pola Serangan Siber
TrustDecision menilai bahwa penipuan digital kini tidak lagi dilakukan secara acak.
Sebaliknya, serangan berlangsung secara bertahap melalui serangkaian aktivitas yang saling terhubung, antara lain:
- Mengumpulkan data korban secara bertahap.
- Menguji respons sistem keamanan.
- Menyesuaikan pola serangan menggunakan AI.
- Melancarkan aksi penipuan setelah menemukan celah keamanan.
Pendekatan ini membuat ancaman menjadi lebih sulit dideteksi karena aktivitas awal sering kali tampak sebagai transaksi normal.
Regulasi AI Indonesia Semakin Diperkuat
Di Indonesia, perkembangan AI juga diikuti dengan penguatan tata kelola.
Dokumen Tata Kelola Kecerdasan Buatan Perbankan Indonesia yang diterbitkan OJK pada April 2025 menekankan tiga prinsip utama dalam penerapan AI, yaitu:
- Keandalan sistem.
- Akuntabilitas.
- Pengawasan manusia (human oversight).
Regulasi tersebut juga mendorong penerapan tata kelola AI secara menyeluruh sepanjang siklus penggunaan teknologi, termasuk pemanfaatan solusi canggih untuk mendeteksi potensi penipuan.
Pendekatan Terintegrasi Jadi Kunci Deteksi Penipuan
Menghadapi ancaman yang semakin kompleks, banyak lembaga keuangan mulai mengadopsi pendekatan keamanan yang lebih terintegrasi.
Pendekatan tersebut menggabungkan:
- Analisis perilaku pengguna.
- Intelijen perangkat (device intelligence).
- Visibilitas jaringan.
- Analisis risiko berbasis AI.
Dengan menghubungkan berbagai sumber data dalam satu sistem pengambilan keputusan, perusahaan dapat mendeteksi pola penipuan yang berkembang lebih cepat sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko kredit dan kepatuhan.
AI Menjadi Tantangan Baru bagi Industri Keuangan
TrustDecision menilai keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada percepatan layanan, tetapi juga kemampuan lembaga keuangan membangun sistem keamanan yang mampu mengikuti perkembangan ancaman berbasis AI.
Di tengah pesatnya pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia, organisasi perlu memperkuat kemampuan deteksi penipuan secara real time agar dapat melindungi transaksi, menjaga kepercayaan pelanggan, dan memenuhi tuntutan regulasi yang terus berkembang.





