Tren Retro Gen Z Bukan Sekedar Nostalgia, Tapi Teguran untuk Industri Teknologi

motorola razr 60
motorola razr 60

review1st.com – Fenomena Gen Z yang menggandrungi teknologi retro—mulai dari kamera saku digital (digicam), earphone berkabel, hingga ponsel lipat lawas—sering kali diremehkan sebagai sekadar tren estetika semata.

Banyak yang menganggap mereka hanya mencari validasi gaya dari era yang bahkan tidak mereka alami sepenuhnya. Namun, anggapan tersebut keliru. Kecintaan Gen Z pada gawai vintage sebenarnya adalah sebuah argumen kritis terhadap industri teknologi modern. Mereka menolak terjebak dalam ekosistem perangkat digital yang monoton, serba mengikat, dan kehilangan “nyawa”.

Ada beberapa alasan logis mengapa teknologi masa lalu justru terasa lebih relevan bagi generasi masa kini:

1. Melawan Kelelahan Digital (Digital Burnout) Perangkat modern dirancang untuk menjadi segalanya sekaligus: alat kerja, pusat hiburan, mesin sosial, dan pelacak kesehatan. Hasilnya adalah rentetan notifikasi tanpa henti yang memicu kecemasan dan kelelahan mental.

Gen Z menyadari hal ini dan menggunakan teknologi retro sebagai bentuk pembatasan diri yang disengaja (intentionality). Saat mereka menggunakan digicam lawas, mereka hanya memotret—tanpa distraksi email masuk atau godaan untuk langsung mengunggahnya ke media sosial. Teknologi retro mengembalikan kendali kepada pengguna, bukan sebaliknya.

2. Mengembalikan Sensasi Taktil yang Hilang Interaksi kita dengan teknologi saat ini telah direduksi menjadi usapan jari di atas permukaan kaca datar yang dingin. Efisien? Ya. Memuaskan? Tidak. Otak manusia merespons rangsangan fisik, dan di situlah teknologi lawas menang telak.

BACA JUGA
Garmin Hadirkan Varian Eksklusif “French Gray’” untuk Venu X1

Ada kepuasan psikologis dan sensasi grounding (kembali ke realitas) saat kita merasakan putaran roda gigi pada kamera analog, bunyi “klik” fisik pada tombol keyboard tebal, atau bantingan mantap saat menutup HP lipat. Layar sentuh modern merampas kepuasan taktil tersebut.

3. Pemberontakan Terhadap Keseragaman Desain Jika Anda menjejalkan sepuluh smartphone keluaran terbaru di atas meja, Anda akan kesulitan membedakannya. Industri teknologi saat ini terjebak dalam standardisasi desain berupa lempengan kaca persegi panjang dengan warna-warna netral yang “aman”.

Bagi Gen Z, gawai bukan sekadar alat, melainkan perpanjangan dari ekspresi diri. Teknologi retro menawarkan keunikan: bentuk yang aneh, warna yang mencolok, dan mekanisme yang tidak biasa. Membawa gadget retro adalah pernyataan sikap bahwa mereka menolak untuk diseragamkan oleh tren pasar.

Motorola Razr 60: Sintesis Sempurna Antara Masa Lalu dan Masa Depan

Argumen Gen Z ini membuktikan satu hal penting: industri teknologi harus berhenti membuat perangkat yang membosankan.

Konsumen menginginkan gawai yang memiliki karakter dan memberikan kepuasan fisik, namun tentu saja mereka tidak ingin sepenuhnya hidup di masa lalu tanpa internet cepat atau kamera jernih. Di titik bertemunya kedua kebutuhan inilah, Motorola Razr 60 hadir sebagai jawaban yang brilian.

Kehadiran Motorola Razr 60 bukanlah sekadar comeback dari sebuah nama legendaris, melainkan respons langsung terhadap tuntutan generasi saat ini. Perangkat ini mengembalikan sensasi snap yang ikonis dan memuaskan saat ditutup—memberikan jeda taktil yang dirindukan di tengah era layar sentuh pasif.

BACA JUGA
Lacoste Gelar Takeover Padel Court Pertama di Indonesia

Dengan desain yang berani dan pilihan warna yang ekspresif, Razr 60 memecahkan kebosanan desain smartphone modern. Di saat yang sama, ketika dibuka, ia menawarkan layar lipat beresolusi tinggi dan performa flagship yang tak tertandingi.

Motorola Razr 60 membuktikan bahwa kita tidak perlu mengorbankan teknologi masa depan hanya untuk mendapatkan perangkat yang memiliki “jiwa” dan karakter.

Motorola mengklaim Razr 60 sebagai perangkat pertama di dunia yang menghadirkan fitur video gestures serta kamera dengan 100% true color. Dibekali juga dengan fitur AI terbaru, termasuk integrasi Gemini AI.

Spesifikasi dan Harga Motorola Razr 60:

  • Layar Internal: 6,96 inci FlexView FHD+ pOLED LTPO (1080×2640 piksel), refresh rate adaptif 1–120Hz, 120% DCI-P3, kecerahan puncak hingga 3.000 nits
  • Layar Eksternal: 3,63 inci QuickView pOLED LTPS (1056×1066 piksel), 90Hz, kecerahan puncak hingga 1.700 nits, Corning Gorilla Glass Victus
  • Prosesor: MediaTek Dimensity 7400X (4nm), Octa-core (2×2,6GHz Cortex-A78 + 6×2,0GHz Cortex-A55), GPU: Mali-G615 MC2
  • RAM: 8GB LPDDR4X
  • Memori Internal: 256GB UFS 2.2
  • Sistem Operasi: Android 15 (jaminan 3x pembaruan OS + 4 tahun SMR)
  • SIM: Dual SIM (eSIM + nano-SIM)
  • Kamera Belakang: 50MP (f/1.7, OIS) + 13MP ultra-wide (f/2.2) dengan mode macro; video hingga 4K 30fps
  • Kamera Depan: 32MP (f/2.4)
  • Audio: USB Type-C Audio, speaker stereo, Dolby Atmos
  • Dimensi: 171,3 mm (terbuka) / 88,08 mm (tertutup) × 73,99 mm × 7,25 mm (terbuka) / 15,85 mm (tertutup); 188 gram
  • Keamanan: Sensor sidik jari di sisi (side-mounted fingerprint scanner)
  • Ketahanan: Tahan debu & air (IP48)
  • Konektivitas: 5G SA/NSA, Dual 4G VoLTE, Wi-Fi 6E 802.11ax (2,4GHz/5GHz) MIMO, Bluetooth 5.3, GPS, USB Type-C, NFC
  • Baterai: 4.500 mAh, 30W TurboPower fast charging, 15W wireless charging
  • Warna, yakni Gibraltar Sea, Parfait Pink, dan Spring Bud
  • Harga Motorola Razr 60 di Indonesia: Rp 11,9 juta
BACA JUGA
Kolaborasi Metrodata,Workday, & Mercer Indonesia