review1st.com – Transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI) terus dipercepat di Indonesia. Namun, riset terbaru dari Lark mengungkap bahwa ambisi besar perusahaan dalam mengadopsi AI masih terhambat oleh pengalaman karyawan (employee experience) yang belum optimal.
Laporan bertajuk “The Paradox of Progress – Why a Broken Employee Experience is Sabotaging Adoption of AI in the Workplace” menunjukkan adanya kesenjangan antara kesiapan teknologi perusahaan dengan kesiapan tenaga kerja dalam memanfaatkan AI secara efektif.
Mayoritas Perusahaan Indonesia Belum Matang Secara Digital
Berdasarkan riset Lark yang melibatkan 900 perusahaan dan lebih dari 5.000 karyawan di enam negara Asia Tenggara, Indonesia menunjukkan perkembangan positif dalam adopsi AI.
Beberapa temuan penting meliputi:
- 90% perusahaan aktif membangun budaya kerja yang mendukung AI.
- Hanya 19% perusahaan yang menganggap dirinya telah matang secara digital.
- Lebih dari 50% organisasi masih berada pada tahap awal eksperimen AI.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi teknologi berkembang lebih cepat dibanding kesiapan organisasi dan karyawan.
Pengalaman Karyawan Menjadi Hambatan Adopsi AI
Lark menilai banyak organisasi masih berfokus pada modernisasi sistem tanpa memperbaiki pengalaman kerja karyawan.
Sebanyak 63% karyawan Indonesia merasa pimpinan belum memahami kebutuhan digital mereka. Akibatnya, muncul berbagai tantangan seperti:
- penggunaan banyak aplikasi yang membingungkan,
- kolaborasi yang kurang efisien,
- produktivitas yang menurun,
- serta meningkatnya kelelahan kerja (burnout).
Empat Tantangan Besar Transformasi Digital
1. Fokus Masih pada Efisiensi Bisnis
Digitalisasi lebih banyak dilakukan pada divisi yang berkaitan langsung dengan efisiensi biaya, seperti:
- IT (79%)
- Keuangan (77%)
- Pemasaran (70%)
Sementara itu, divisi SDM dan Employee Experience masih tertinggal dengan tingkat digitalisasi hanya 54%.
2. Terlalu Banyak Tools Digital
Riset menemukan:
- 58% karyawan kehilangan lebih dari tiga jam kerja setiap minggu akibat kolaborasi digital yang tidak efisien.
- 49% merasa kewalahan karena harus menggunakan terlalu banyak aplikasi.
- 48% harus membuka berbagai platform setiap jam hanya untuk mengikuti perkembangan pekerjaan.
3. Inovasi Belum Didukung Otonomi
Walaupun:
- 89% perusahaan mengaku mendukung inovasi,
kenyataannya:
- hanya 31% karyawan merasa memiliki kebebasan mengembangkan ide baru,
- hanya 42% yang merasa memiliki kendali terhadap tools yang digunakan.
Akibatnya, 77% responden menilai inovasi di tempat kerja belum berjalan secara sistematis.
4. Pelatihan AI Masih Kurang
Kesenjangan kompetensi AI juga masih tinggi.
Temuan riset menunjukkan:
- 86% karyawan membutuhkan pelatihan AI dan keamanan siber.
- Hanya 36% yang merasa sudah memperoleh pelatihan memadai.
- Pimpinan perusahaan jauh lebih siap menggunakan AI dibanding karyawan.
Karyawan Masih Belum Percaya dengan Implementasi AI
Selain masalah keterampilan, laporan juga menemukan adanya krisis kepercayaan terhadap implementasi AI.
Beberapa data penting:
- Hanya 30% perusahaan dianggap transparan mengenai penggunaan AI.
- 45% karyawan mengaku belum memahami ekspektasi perusahaan terkait AI.
- 46% khawatir AI akan menggantikan pekerjaan mereka.
- 90% memiliki kekhawatiran mengenai keamanan penggunaan AI.
Meski demikian, mayoritas karyawan sebenarnya tidak menolak AI.
Sebanyak 90% responden justru antusias jika AI dapat mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin, sehingga mereka bisa lebih fokus pada pekerjaan kreatif dan bernilai tinggi.
Platform Terpadu Dinilai Jadi Solusi
Lark menilai transformasi digital akan lebih berhasil apabila perusahaan meninggalkan ekosistem aplikasi yang terpisah-pisah dan beralih ke platform kerja terpadu.
Organisasi yang telah menggunakan platform terintegrasi melaporkan:
- 92% mengalami peningkatan efisiensi kerja.
- 90% berhasil mengurangi hambatan komunikasi.
- 83% memperoleh penghematan biaya operasional.
Melalui platform AI workspace terpadu, perusahaan dapat menyatukan komunikasi, kolaborasi, pengetahuan, hingga workflow dalam satu sistem yang saling terhubung.
Lark: AI Harus Berjalan Bersama Kesiapan Karyawan
General Manager Asia Pacific Lark, Olivier Adam, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengadopsi AI, tetapi oleh kemampuan perusahaan membawa seluruh karyawannya ikut berkembang.
Menurutnya, organisasi perlu:
- meningkatkan transparansi penggunaan AI,
- memberikan pelatihan yang memadai,
- membangun kepercayaan karyawan,
- serta memastikan teknologi benar-benar membantu pekerjaan sehari-hari.




