Berita  

Memberdayakan Generasi Muda dalam Menciptakan Pendidikan di Era Digital

review1st.com – Hari Pendidikan Internasional 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis pendidikan dalam menciptakan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.

Sejak ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 3 Desember 2018, tanggal 24 Januari diperingati sebagai Hari Pendidikan Internasional.

Pada tahun 2026, tema global yang diangkat adalah “The Power of Youth in Co-Creating Education” atau kekuatan generasi muda dalam membangun pendidikan bersama.

Tema ini menyoroti peran pemuda sebagai agen perubahan dalam membentuk sistem pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas di era digital.

Generasi Muda: Dari Penerima Manfaat Menjadi Perancang Pendidikan

Saat ini, generasi muda mencakup lebih dari setengah populasi dunia. Mereka tidak lagi dapat dipandang sebagai penerima manfaat pasif dari sistem pendidikan, melainkan sebagai kontributor aktif dan perancang masa depan pembelajaran.

Memberdayakan Generasi Muda dalam Menciptakan Pendidikan di Era Digital

Sebagai digital natives, generasi muda memiliki pemahaman alami terhadap teknologi dan dinamika masa depan. Suara, perspektif, dan partisipasi mereka menjadi kunci dalam mengembangkan metode pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman.

Sejalan dengan visi UNESCO dalam mendorong kemandirian generasi muda, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menjembatani kesenjangan dan memberdayakan pemuda agar berperan aktif dalam proses pendidikan—terutama di tengah pesatnya transformasi teknologi.

Menjembatani Kesenjangan Digital dalam Pendidikan

Di kawasan Asia Tenggara dan Oseania (SEAO), kesenjangan digital masih menjadi tantangan utama. Masalah ini kerap dipahami sebatas keterbatasan infrastruktur seperti akses internet, bandwidth, dan perangkat digital. Namun, kesenjangan digital sejatinya jauh lebih kompleks.

BACA JUGA
Huawei & Blibli Resmikan HUAWEI Experience Store di Bekasi dan Cirebon

Akses internet bukan hanya soal kecepatan, tetapi tentang kecepatan siswa dalam mengakses pengetahuan. Perangkat digital bukan sekadar alat, melainkan media untuk berkreasi dan berinovasi.

Ketika siswa di daerah terpencil tidak memiliki akses ini, mereka kehilangan peluang untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital masa depan.

Pada tahun 2025, 59% sekolah di wilayah SEAO telah merencanakan investasi teknologi untuk mendigitalisasi lingkungan belajar.

Fakta ini menegaskan bahwa teknologi pendidikan bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menciptakan akses pendidikan yang setara.

Memberdayakan Pengajar sebagai Kunci Transformasi Pendidikan

Teknologi hanyalah titik awal. Dampak nyata baru tercipta ketika pengajar memiliki kompetensi digital untuk membimbing dan menginspirasi siswa. Oleh karena itu, pendekatan transformasi pendidikan harus dimulai dari para pengajar.

Melalui Samsung Learning Hub, disediakan pelatihan, sumber daya, serta program bootcamp dan mentoring untuk meningkatkan kualitas pengajaran.

Inisiatif ini bertujuan memperkuat kapabilitas pendidik dan pemimpin sekolah agar mampu beradaptasi dengan kurikulum yang terus berkembang dan memaksimalkan teknologi sebagai pendukung pedagogi.

Samsung Digital Lighthouse School: Model Transformasi Berkelanjutan

Program Samsung Digital Lighthouse School menjadi contoh nyata transformasi pendidikan digital yang berkelanjutan.

Program ini dirancang untuk mendukung sekolah berdasarkan tingkat kesiapan digital masing-masing, mulai dari penyediaan perangkat hingga pengembangan kapasitas.

Di Indonesia, SMP Islam Al Azhar 25 Tangerang Selatan dan Thursina International Islamic Boarding School telah bergabung dalam inisiatif ini.

BACA JUGA
Pemahaman Menyeluruh tentang Samsung Bespoke AI 2026

Hasilnya, guru semakin percaya diri memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran interaktif, sementara beban administratif berkurang sehingga fokus utama kembali pada proses belajar-mengajar.

Merancang Pembelajaran Masa Depan Berbasis Kemandirian

Setelah akses dan kompetensi pengajar diperkuat, tujuan utama pendidikan digital adalah membangun kemandirian (agency) generasi muda.

Pendidikan tidak hanya tentang infrastruktur, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah nyata.

Hal ini tercermin dalam program Samsung Solve for Tomorrow, sebuah kompetisi berbasis STEM yang mendorong siswa menciptakan solusi inovatif bagi tantangan sosial.

Pada tahun 2025, hampir 17.000 siswa berpartisipasi di wilayah SEAO—meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu contoh inspiratif datang dari Jack Lowe asal New South Wales, Australia. Ia mengembangkan Eilik, sebuah platform berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pendidik mengidentifikasi potensi ketidakjujuran akademik di era AI generatif.

Inovasi ini menunjukkan bagaimana generasi muda dapat berkontribusi langsung dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang adil dan relevan.

Mempersiapkan Generasi Siap Industri di Era AI

Seiring pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI, kebutuhan akan keterampilan siap industri semakin mendesak.

Melalui Samsung Innovation Campus, lebih dari 24.000 peserta di wilayah SEAO telah dibekali keterampilan coding, pemrograman, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan sepanjang tahun 2025.

Program ini tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi saat ini, tetapi juga mempersiapkan generasi muda untuk membangun teknologi masa depan.

BACA JUGA
5 Alasan Xiaomi 15T Series Disukai Fotografer Profesional

Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Bersama

Hari Pendidikan Internasional 2026 mengingatkan bahwa pendidikan bukan warisan satu arah, melainkan upaya kolaboratif lintas generasi.

Dengan melibatkan generasi muda sebagai mitra aktif, pendidikan dapat terus berevolusi dan relevan dengan masa depan.

Komitmen untuk menutup kesenjangan akses hari ini adalah kunci untuk membuka pintu inovasi esok hari.

Dengan memberdayakan pengajar, memperluas akses teknologi, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkreasi, kita bersama-sama membangun masa depan pendidikan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata.