review1st.com – Fortinet merilis 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang mengungkap bahwa kekurangan talenta keamanan siber masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi organisasi di Indonesia.
Di sisi lain, meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) menghadirkan peluang sekaligus risiko baru yang harus diantisipasi perusahaan.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun organisasi mulai mengadopsi solusi keamanan berbasis AI dan meningkatkan investasi dalam pelatihan tenaga kerja, kesenjangan keterampilan keamanan siber masih menjadi faktor utama yang memengaruhi ketahanan bisnis.
“Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan risiko strategis bagi bisnis. Dibutuhkan investasi yang lebih besar untuk mengatasi risiko AI dan kekurangan talenta keamanan siber yang terus berlangsung,” ujar Carl Windsor, CISO Fortinet.
92% Organisasi di Indonesia Mengalami Serangan Siber
Hasil survei Fortinet menunjukkan ancaman keamanan siber di Indonesia masih sangat tinggi.
Beberapa temuan utama meliputi:
- 92% organisasi mengalami minimal satu insiden keamanan siber dalam 12 bulan terakhir.
- 64% organisasi mengalami lima atau lebih insiden keamanan.
- 62% perusahaan mengeluarkan biaya pemulihan lebih dari US$1 juta akibat serangan siber.
- 64% organisasi membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk memulihkan operasional setelah insiden.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak finansial maupun operasional akibat serangan siber masih sangat besar bagi perusahaan di Indonesia.
Kekurangan Talenta Keamanan Siber Masih Menjadi Masalah Besar
Laporan Fortinet juga menemukan bahwa minimnya tenaga ahli keamanan siber menjadi salah satu penyebab utama tingginya risiko serangan.
Beberapa temuan penting antara lain:
- 76% pemimpin TI menilai kurangnya tenaga ahli keamanan siber menjadi penyebab utama meningkatnya ancaman.
- 51% organisasi membutuhkan tenaga keamanan siber tingkat senior.
- 75% responden mengakui kekurangan talenta meningkatkan risiko keamanan perusahaan.
Bahkan, 47% responden menyebutkan bahwa anggota dewan direksi atau eksekutif perusahaan pernah menerima konsekuensi seperti denda, kehilangan jabatan, maupun masalah hukum setelah terjadi insiden keamanan siber.
AI Membawa Risiko Baru dalam Keamanan Siber
Adopsi AI yang semakin luas juga menghadirkan tantangan baru.
Fortinet mencatat:
- 68% organisasi percaya dewan direksi telah memahami risiko penggunaan AI.
- 73% responden memperkirakan kebutuhan tenaga ahli tata kelola dan pengawasan AI akan meningkat dalam tiga tahun mendatang.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyadari pentingnya pengelolaan AI secara aman dan bertanggung jawab.
Hampir Semua Organisasi Mulai Menggunakan AI untuk Keamanan Siber
Laporan Fortinet menunjukkan adopsi AI dalam keamanan siber berkembang sangat pesat.
Temuan lainnya meliputi:
- 98% organisasi telah menggunakan atau sedang menguji solusi keamanan berbasis AI.
- 90% responden mengatakan AI membantu meningkatkan efektivitas tim keamanan.
- 50% organisasi masih memiliki keraguan terhadap implementasi AI.
- 50% responden menganggap serangan siber berbasis AI menjadi perhatian utama.
Dengan meningkatnya penggunaan AI oleh pelaku maupun tim keamanan, perusahaan dituntut memiliki kemampuan baru untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.
Investasi Pelatihan dan Sertifikasi Terus Meningkat
Untuk mengatasi kekurangan tenaga ahli, perusahaan mulai meningkatkan investasi dalam pengembangan kompetensi.
Beberapa data penting meliputi:
- 93% organisasi bersedia membiayai sertifikasi keamanan siber bagi karyawan, meningkat dari 76% pada 2025.
- 97% perusahaan berencana berinvestasi pada pelatihan AI dan keamanan siber dalam 12 bulan mendatang.
- 82% responden mengaku kesulitan mencari tenaga keamanan siber yang memiliki pengalaman AI.
- 70% organisasi telah menjalankan program pelatihan internal maupun reskilling terkait AI.
Selain itu, seluruh organisasi yang disurvei juga memanfaatkan program magang, apprenticeship, serta kemitraan untuk memperluas sumber talenta keamanan siber.
Fortinet Targetkan Melatih 1 Juta Talenta Keamanan Siber
Sebagai bagian dari komitmennya, Fortinet terus memperluas akses pendidikan melalui Fortinet Training Institute, yang menyediakan pelatihan, sertifikasi, hingga program Security Awareness Training bagi perusahaan.
Fortinet juga menargetkan dapat melatih 1 juta orang di seluruh dunia di bidang keamanan siber pada tahun ini, melanjutkan komitmen yang telah dimulai sejak 2022.
Langkah tersebut diharapkan mampu membantu organisasi membangun tenaga kerja yang lebih siap menghadapi ancaman siber sekaligus memperkuat ketahanan bisnis di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat.








