Berita  

Coda dan EKRAF Buka Akses Pengembang Gim Tanah Air ke Pasar Global

review1st.com – Coda, perusahaan perdagangan digital global, resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (EKRAF).

Kerja sama ini bertujuan mempercepat pertumbuhan industri gim Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing pengembang lokal di pasar global.

Melalui kemitraan tersebut, Coda dan EKRAF akan menghadirkan berbagai program yang membekali developer gim Indonesia dengan pengetahuan bisnis, perangkat komersial, serta akses terhadap jaringan internasional. Langkah ini diharapkan mampu membantu studio gim lokal mengembangkan bisnis yang lebih berkelanjutan.

Pengembang Gim Lokal Didorong Naik Kelas

Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari berbagai inisiatif yang sebelumnya telah dijalankan bersama, termasuk penyelenggaraan Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta yang berhasil meningkatkan kapasitas lebih dari 70 pengembang gim Indonesia.

Selain pelatihan, Coda juga memperluas peluang distribusi gim lokal melalui Codashop, marketplace digital miliknya yang memudahkan penjualan konten gim kepada pengguna di berbagai negara.

Tak hanya fokus pada pengembangan bisnis, kedua pihak juga berkomitmen meningkatkan literasi digital melalui kampanye Guard Your Game, yang mengedukasi pemain mengenai keamanan digital dan cara menghindari berbagai bentuk penipuan online.

Bangun Industri Gim Indonesia yang Berdaya Saing Global

Kerja sama ini mendukung visi pemerintah dalam membangun industri gim nasional yang kuat, kompetitif, dan mampu menjadi pemain utama di pasar internasional.

CEO Coda, Shane Happach, mengatakan Indonesia memiliki komunitas pengembang gim yang berkembang pesat. Namun, untuk membangun bisnis yang sukses dibutuhkan akses terhadap infrastruktur, jaringan, dan peluang komersial yang tepat.

Melalui kemitraan dengan EKRAF, Coda ingin membantu lebih banyak pengembang Indonesia memperoleh akses terhadap teknologi, keahlian, serta jaringan global sehingga mampu menjangkau lebih banyak pemain di seluruh dunia.

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi penting bagi perusahaan.

“Coda didirikan di Indonesia, dan kami tetap berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi digital serta industri kreatif nasional,” ujarnya.

Industri Gim Indonesia Terus Bertumbuh

Potensi industri gim nasional terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Niko Partners, pendapatan industri gim Indonesia telah melampaui US$1,1 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$1,5 miliar pada 2030.

Di sisi lain, pola transaksi pemain juga mengalami perubahan. Sekitar 38% pendapatan gim mobile di Asia Tenggara kini berasal dari pembayaran di luar aplikasi (out-of-app), meningkat signifikan dibanding dua tahun sebelumnya yang hanya mencapai 21%.

Penggunaan dompet digital juga semakin mendominasi dengan sekitar 55% pemain gim mobile memilih e-wallet sebagai metode pembayaran, sementara hampir seperempat lainnya memanfaatkan pembayaran melalui operator seluler.

Tren tersebut menunjukkan pentingnya solusi pembayaran digital yang fleksibel agar pengembang dapat memperluas jangkauan pengguna sekaligus meningkatkan pendapatan.

EKRAF: Indonesia Siap Jadi Kreator Gim Dunia

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyebut kerja sama ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat industri gim nasional.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem gim Indonesia yang mampu bersaing secara global.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki pasar gim yang besar, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pencipta gim kelas dunia.

Coda Perkuat Komitmen di Indonesia

Ke depan, Coda dan EKRAF akan terus mengeksplorasi berbagai program kolaborasi untuk memperkuat industri kreatif digital Indonesia.

Didirikan di Indonesia dengan kantor pusat di Singapura, Coda kini telah beroperasi di lebih dari 80 negara dan mendukung lebih dari 400 metode pembayaran melalui berbagai layanan seperti Codashop, Codapay, Coda Webstore, dan Coda Distribution.

Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar terbesar Coda dengan kontribusi sekitar 22% terhadap pendapatan global perusahaan.

Sepanjang periode Mei 2025 hingga Maret 2026, Codashop Indonesia mencatat rata-rata lebih dari 13 juta kunjungan setiap bulan dan melayani lebih dari 1 juta pengguna aktif bulanan, mempertegas besarnya potensi pasar digital Indonesia.