review1st.com – Ping Identity merilis 2026 Consumer Survey (Indonesia) di Jakarta pada 7 Oktober 2026. Riset ini mencatat sebanyak 61 persen konsumen di Indonesia cenderung membiarkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mengambil keputusan secara mandiri atas nama mereka.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumen global yang hanya mencapai 31 persen.
Meskipun masyarakat Indonesia sangat terbuka terhadap adopsi teknologi ini, keterbukaan tersebut diiringi ekspektasi tinggi. Konsumen tetap menuntut perlindungan data pribadi, representasi yang akurat, serta kendali yang jelas atas setiap tindakan AI.
Tingkat Pemahaman Agentic AI di Indonesia Melampaui Rata-Rata Global
Studi ini mengidentifikasi bahwa 74 persen responden di Indonesia sudah mengenal agentic AI secara baik. Angka kepedulian ini melampaui persentase global yang berada di angka 40 persen.
Selain itu, sebanyak 62 persen konsumen di Indonesia bersedia memberikan akses membaca email utama kepada agen AI demi menghemat waktu lima jam per minggu.
Namun, adopsi agentic AI menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengenai pengawasan dan representasi diri:
- Kekhawatiran Kekeliruan Representasi: Terdapat 86 persen responden yang khawatir agen AI dapat memberikan gambaran keliru mengenai nilai-nilai atau kepribadian mereka.
- Beban Pengawasan Berkelanjutan: Sebanyak 74 persen responden mengaku lebih cemas terhadap keharusan memeriksa ulang hasil kerja AI secara terus-menerus.
Darryl Jones, Vice President of Consumer Segment Strategy Ping Identity, menegaskan pentingnya batas kendali pengguna. “Konsumen terbuka terhadap AI yang melakukan lebih banyak hal, tetapi mereka ingin tetap menentukan sejauh mana AI dapat bertindak.
Semakin besar tanggung jawab yang kita berikan kepada AI, semakin penting untuk memperjelas apa yang dapat dilakukannya, apa yang dapat diaksesnya, dan siapa yang tetap memegang kendali,” ujar Jones.
Prioritas Kinerja, Perlindungan Privasi, dan Regulasi Pemerintah
Mayoritas konsumen di Indonesia mendahulukan kecepatan dan akurasi sistem AI. Sebanyak 62 persen responden mengutamakan hasil yang cepat serta akurat. Di sisi lain, jaminan privasi dan identitas digital tetap menjadi perhatian utama:
- Pencantuman Sumber Rujukan: Sebanyak 51 persen konsumen menganggap pencantuman sumber membuat alat AI lebih tepercaya.
- Perlindungan Data Melatih Model: Terdapat 49 persen responden yang menghargai jaminan bahwa data pribadi tidak digunakan untuk melatih model AI publik.
- Resiko Keamanan Identitas: Sebanyak 49 persen responden khawatir AI mengganggu privasi, 48 persen mengkhawatirkan ancaman keamanan siber, dan 48 persen menyoroti risiko peniruan identitas secara keliru.
- Dukungan Regulasi: Sebanyak 92 persen masyarakat menegaskan pentingnya regulasi pemerintah untuk melindungi data identitas pada aplikasi AI.
Akkasha Sultan, Senior Vice President and General Manager APJ Ping Identity, menambahkan bahwa perusahaan harus menjaga keseimbangan. “Temuan ini menyoroti perlunya mengimbangi performa AI dengan perlindungan yang kuat terhadap identitas dan data pribadi,” kata Sultan.
Ia menekankan pentingnya izin yang jelas dan identitas yang terverifikasi agar akuntabilitas tetap terjaga.
Ringkasan Temuan Survei Ping Identity Indonesia 2026
| Indikator Metrik | Indonesia | Global |
|---|---|---|
| Kesediaan mengizinkan AI mengambil keputusan mandiri | 61% | 31% |
| Pemahaman terhadap agentic AI | 74% | 40% |
| Kesediaan memberi akses email demi hemat waktu | 62% | 33% |
| Memprioritaskan kecepatan dan akurasi hasil AI | 62% | – |
| Menganggap regulasi pemerintah terkait AI penting | 92% | – |
FAQ (Frequently Asked Questions)
Berapa persen konsumen di Indonesia yang bersedia memberi izin AI mengambil keputusan? Berdasarkan survei Ping Identity 2026, sebanyak 61 persen konsumen di Indonesia bersedia membiarkan AI mengambil keputusan secara mandiri.
Apa itu agentic AI menurut tingkat pemahaman konsumen di Indonesia? Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang bertindak mandiri atas nama pengguna. Sebanyak 74 persen konsumen Indonesia sudah mengenal konsep ini.
Mengapa regulasi pemerintah penting dalam penggunaan aplikasi AI? Regulasi penting untuk melindungi data identitas pribadi, mencegah peniruan identitas, serta memastikan transparansi dan keutamaan kendali manusia atas sistem AI.




