review1st.com – Dahulu, fotografi adalah tentang menangkap cahaya yang benar-benar ada di depan lensa. Namun, saat kita memasuki tahun 2026, garis antara realitas optik dan kreasi digital semakin bias.
Pertanyaan besar yang kini menghantui setiap pengguna smartphone adalah: apakah kehadiran AI yang semakin dominan ini merupakan sebuah upgrade kemampuan manusia, atau justru sebuah distorsi yang menjauhkan kita dari keaslian?
Evolusi dari Pasif ke Generatif
Kita telah melewati masa di mana AI hanya bekerja secara pasif di balik layar, seperti sekadar menyeimbangkan dynamic range (HDR). Kini, fungsi AI telah bermutasi menjadi kemampuan generatif aktif. Ia tidak lagi hanya “memperbaiki” foto, tapi “menciptakan” elemen baru melalui fitur seperti Generative Fill dan Real-time Editing.
Di Indonesia, fenomena ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan gaya hidup. Dari merekam momen keluarga di bawah lampu temaram hingga membuat konten media sosial yang harus terlihat sempurna tanpa bantuan gimbal, AI menjadi asisten tak kasat mata yang memastikan setiap jepretan layak dipublikasikan.
Rekam Jejak: Bukan Sekadar Filter
Samsung, melalui perjalanan panjang Galaxy S Series-nya, menunjukkan bahwa AI bukanlah alat untuk memalsukan realitas, melainkan jembatan untuk melampaui keterbatasan fisik lensa smartphone yang kecil.
- Melihat yang Tak Terlihat: Dimulai pada era Galaxy S9 dan S20, AI hadir untuk menangkap detail yang luput dari mata manusia melalui Super Slow-mo dan Space Zoom 100x. Di sini, AI berperan sebagai “pembesar” realitas.
- Menyempurnakan Kemanusiaan: Pada era Galaxy S21 dan S22, fokus beralih ke rasa. AI mulai belajar mengenali tekstur kulit manusia agar mode Portrait tidak terlihat seperti plastik, namun tetap profesional. Ini adalah upaya AI untuk memahami estetika manusia.
- Kekuatan ProVisual Engine: Kini, dengan kehadiran Galaxy S24 hingga S25 Series, kita diperkenalkan pada ProVisual Engine. Dengan basis 400 juta dataset, kamera tidak hanya memotret, ia “berpikir”. Ia tahu bagaimana memproses Nightography agar malam yang gelap tetap bercerita tanpa kehilangan atmosfer aslinya.
Upgrade atau Distorsi?
Ilham Indrawan dari Samsung Electronics Indonesia menegaskan bahwa fokus teknologi saat ini adalah pada on-device AI yang cepat, mudah, dan personal. “Kami ingin siapa saja bisa mendapatkan foto yang bagus dan berkreasi dengan mudah,” ujarnya.
Jika kita melihat dari sudut pandang fungsional, ini adalah upgrade besar. AI memungkinkan kita melakukan apa yang dulu hanya bisa dilakukan oleh fotografer profesional dengan peralatan berat. Namun, bagi para purist, kemudahan mengedit objek atau mengisi latar belakang secara otomatis mungkin terasa seperti distorsi terhadap momen yang sebenarnya.
Menatap Masa Depan 2026
Memasuki tahun 2026, perdebatan ini mungkin tidak akan pernah usai, tetapi satu hal yang pasti: AI telah memberikan kebebasan bagi pengguna untuk tidak hanya Capture, tapi juga Create dan Inspire.
Apakah itu distorsi? Mungkin. Namun, jika distorsi tersebut mampu mengubah momen buram yang berharga menjadi kenangan indah yang abadi, bukankah itu adalah upgrade yang kita semua butuhkan?





